Kamis, 16 Agustus 2018

KETERAMPILAN GERAK


PROFESIONAL PJOK
TUGAS M1 KB 3 : Keterampilan Gerak
1.      Tuliskan pengertian gerak lokomotor dan berikan contohnya serta jelaskan!
2.      Jelaskan 3 klasifikasi keterampilan gerak beserta pengelompokannya masing-masing.
3.      Faktor apa saja yang mempengaruhi keterampilan dalam proses belajar gerak? Sertakan satu contohnya.
4.      Tuliskan karakteristik peserta didik sekolah menengah atas laki-laki dan perempuan.

JAWABAN

1.       Gerak dasar lokomotor merupakan salah satu domain dari gerak dasar fundamental (fundamental basic movement), di samping gerak dasar non-lokomotor dan gerak dasar manipulatif. Gerak dasar lokomotor diartikan sebagai gerakan atau keterampilan yang menyebabkan tubuh berpindah tempat, sehingga dibuktikan dengan adanya perpindahan tubuh (traveling) dari satu titik ke titik lain. Gerakan-gerakan tersebut merentang dari gerak yang sifatnya sangat alamiah mendasar seperti merangkak, berjalan, berlari, dan melompat, hingga ke gerakan yang sudah berupa keterampilan khusus seperti meroda, guling depan, hingga handspring dan back-handspring. Berikut penjelasan salah satu contoh gerak lokomotor berlari.
Gerak Dasar Berlari
Berlari adalah pergerakan kaki yang cepat secara bergantian, pada saat yang sekejap, kedua kaki meninggalkan bumi sebelum salah satu kaki segera bertumpu kembali. Berlari dibedakan dari yang cepat (sprint) hingga yang pelan. Tubuh, walaupun berbeda tingkatnya sesuai kecepatan, harus sedikit condong ke depan. Lutut dibengkokkan dan diangkat, kedua lengan berayun depan dan belakang dari bahu, dan siku bengkok. Selama tahapan awal berlari (umur 2 tahun), seorang anak akan menghasilkan keseimbangan yang tidak stabil. Anak membuat gerakan kaki yang berlebihan, khususnya lutut dari kaki yang mengayun mengarah keluar kemudian berputar ke depan dalam persiapan untuk fase bertumpu. Aksi lutut ini dibarengi oleh kaki yang jarinya mengarah keluar. Gerakan yang berlebihan ini secara bertahap menghilang ketika tungkai anak menjadi lebih panjang dan lebih kuat.  
Sebagian besar anak sekolah dapat berlari pada kecepatan relatif tinggi dan dengan mudah dapat mengubah arah larinya. Tahapan pola lari yang sudah matang akan menunjukkan hal-hal esensial berikut ini:
a)      Tubuh memelihara sedikit kecondongan ke depan selama pola melangkah.
b)      Kedua lengan mengayun dengan sudut yang luas dan disinkronkan secara berlawanan dengan ayunan kaki.
c)      Kaki yang menumpu kontak dengan tanah hampir rata dan dekat di bawah titik berat tubuh.
d)      Lutut dari kaki yang bertumpu sedikit bengkok setelah kaki tersebut membuat kontak dengan tanah.
e)      Pelurusan dari kaki yang bertumpu pada bagian panggul, lutut, dan pergelangan kaki mendorong tubuh ke depan dan ke atas ke arah fase melayang.
f)       Lutut yang mengayun bergerak ke depan dengan cepat pada angkatan lutut tinggi, dan secara bersamaan kaki yang lebih rendah membengkok, membawa tumit dekat ke pantat.

2.      Klasifikasi Keterampilan gerak
Pengklasifikasian keterampilan gerak dapat dibuat berdasarkan beberapa sudut pandang, berikut ini disajikan beberapa klasifikasi keterampilan gerak:
1)      Berdasarkan kecermatan gerak
2)      Perbedaan titik awal dan titik akhir
3)      Stabilitas lingkungan
Uraian mengenai tiap klasifikasi tersebut adalah sebagai berikut:  
1)      Klasifikasi berdasarkan kecermatan gerakan
Ketererampilan gerak dapat dikaji berdasarkan kecermatan pelaksanaannya. Kecermatan pelaksanaan gerakan dapat ditentukan antara lain oleh jenis otot-otot yang terlibat. Ada gerakan yang melibatkan otot-otot besar dan jenis otot-otot halus. Berdasarkan kecermatan gerakan atau jenis otot-otot yang terlibat, keterampilan gerak dapat dikategorikan menjadi 2 yaitu:
a)      Keterampilan gerak agal (gross motor skills)
Keterampilan gerak agal adalah gerakan yang dalam pelaksanaannya melibatkan otot-otot besar sebagai basis utama gerakan, contohnya antara lain keterampilan gerak loncat tinggi dan lempar lembing. Pada keterampilan gerak agal diperlukan keterlibatan bagian-bagian tubuh secara keseluruhan, sedang pada keterampilan gerak halus hanya melibatkan sebagian dari anggota badan yang digerakan oleh otot-otot halus.
b)      Keterampilan gerak halus (fine motor skills)
Keterampilan gerak halus adalah gerakan yang dalam pelaksanaannya melibatkan otot-otot halus sebagai basis utama gerakan. contohnya antara lain adalah keterampilan gerak menarik pelatuk senapan dan pelepasan busur dalam memanah.

2)      Klasifikasi berdasarkan perbedaan titik awal dan titik akhir
Apabila diperlukan, gerakan keterampilan ada yang dengan mudah dapat diketahui bagian awal dan bagian akhir dari gerakannya, tetapi ada juga yang susah diketahui. Dengan karakteristik seperti itu, keterampilan gerak dapat dibedakan menjadi 3 kategori, yaitu:
a)      Keterampilan gerak diskret (discrete motor skill)
Keterampilan gerak diskret adalah keterampilan gerak di mana dalam pelaksanaannya dapat dibedakan secara jelas titik awal dan titik akhir dari gerakan. Contohnya adalah gerakan berguling kedepan satu kali. titik awal gerakan adalah pada saat pelaku berjongkok dan meletakan kedua telapak tangan dan tengkuknya ke matras, sedangkan titik akhirnya adalah pada saat pelaku sudah dalam keadaan jongkok kembali.
b)     Keterampilan gerak serial (serial motor skill)
Keterampilan gerak serial adalah keterampilan gerak diskret yang dilakukan beberapa kali secara berlanjut. Contohnya gerakan berguling ke depan beberapa kali.
c)      Keterampilan gerak kontinyu (continuous motor skill)
Keterampilan gerak kontinyu adalah keterampilan gerak yang tidak dapat dengan mudah ditandai titik awal dan akhir dari gerakannya. Contohnya adalah keterampilann gerak bermain tenis atau permainan olahraga lainnya. Di sini titik awal dan akhir tidak mudah untuk diketahui karena merupakan rangkaian dari bermacan-macam rangkaian gerakan. Pada keterampilan gerak kontinyu, untuk melaksanakannya lebih dipengaruhi oleh kemamuan sipelaku dan nstimulus eksternal. dibandingkan dengan pengaruh bentuk gerakannya sendiri. Misalnya pada saat menggiring bola, yang menentukan adalah keadaan bola dan maunya si pelaku untuk menggiringnya, sedang bentuk gerakkannya sendiri dapat berubah-ubah atau tidak berpaku pada bentuk gerakan tertentu yang baku.

3)      Klasifikasi berdasarkan stabilitas lingkungan
Di dalam melakukan suatu gerakan keterampilan, ada kalanya pelaku menghadapi kondisi lingkunagn yang tidak berubah-ubah ada kalanya berubah-ubah. Berdasarkan keadaan kondisi lingkungan seperti itu, gerakan nketerampilan dapat dikategorikan menjadi 2 yaitu:
a)      Ketrampilan tertutup (clossed skill)
Keterampilan tertutup adalah keterampilan gerak dimana pelaksanaannya terjadi pada kondisi lingkungan yang tidak berubah, dan stimulus gerakannya timbul dari dalam diri si pelaku sendiri. Contohnya adalah dalam melakukan gerakan mengguling pada senam lantai, dalam gerakanj ini pelaku memulainya setelah siap untuk melakukannya, adan bergerak berdasarkan apa yang direncanakannya.
b)     Ketrampilan Terbuka (open skill)
Keterampilan terbuka adalah keterampilan gerak dimana dalam pelaksanaannya terjadai pada konsisi lingkungan yang berubah- ubah, dan pelaku bergerak menyesuaikan dengan stimulus yang timbul dari lingkungannya. Perubahan kondisi lingkungan dapat bersifat temporal dan bisa bersifat spesial. Contohnya adalah dalam melakukan gerakan memukul bola yang dilambungkan. Dalam gerakan ini pelaku memukul bola dengan menyesuaikan dengan kondisi bolanya agar pukulanya mengena. Pelaku dipaksa untuk mengamati kecepatan, arah, an jarak bola; kemudian menyesuaikan pukulanya.

3.      Faktor yang mempengaruhi keterampilan dalam proses belajar gerak.
Keberhasilanan pencapaian suatu keterampilan dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor tersebut secara umum dibedakan menjadi tiga hal utama, yaitu : (1) Proses Belajar Mengajar, (2) Pribadi, dan (3) Faktor situasional (lingkungan). Ketiga faktor inilah yang diyakini telah menjadi penentu utama mencapai keberhasilan dalam mempelajari keterampilan.
1.      Faktor Proses Belajar (Learning Process)
Hakikat dari proses belajar sebenarnya berkaitan langsung dengan isu sentral yang menjadi perhatian atau hakikat pembelajaran. Proses belajar yang baik tentunya harus mendukung upaya menjelmakan pembelajaran pada setiap pesertanya. Dengan memahami berbagai teori belajar, akan memberi jalan kepada kita tentang bagaimana pembelajaran bisa dijelmakan, yang intisari dari adanya kegiatan pembelajaran adalah terjadinya perubahan dalam pengetahuan dan perilaku individu peserta pembelajaran. Dalam hal pembelajaran gerak proses belajar yang harus diciptakan adalah yang dilakukan berdasarkan tahapan-tahapan yang digariskan oleh teori belajar yang diyakini kebenarannya serta dipilih berdasarkan nilai manfaatnya. Berbagai tanda serta langkah yang bias menimbulkan perubahan dalam perilaku peserta didik ketika sedang belajar gerak harus diupayakannya. Di pihak lain, teori-teori belajar mengarahkan kita pada pemahaman tentang mode yang efektif ; apakah suatu materi pembelajaran cocok disampaikan dengan menggunakan metode keseluruhan versus bagian mode, metode distribusi, versus padat, metode drill versus problem sloving, atau metode pengajaran terprogram, kesemuanya merupakan poin-poin yang akan mengarahkan pada pencapaian keterampilan.
2.      Faktor Pribadi (Personal Faktor)
Setiap orang (pribadi) merupakan individu yang berbeda-beda, baik dalam hal fisik, mental emosional, maupun kemampuan-kemampuan. Ada ungkapan yang sering didengar dlam kehidupan sehari-hari bahwa si A berbakat besar dalam tenis, si B berbakat dalam olahraga individu, dsb. Demikia juga gika mendengar bahwa seorang anak lebih cepat menguasai suatu keterampilan, sedangkan anak yang lain memrlukan waktu yang lebih lama. Kesemua itu tidak lain merupakan individu-individu yang memiliki ciri, kemampuan, minat, kecenderungan, serta bakat yang berbeda-beda. Dengan mengakui adanya perbedaan-perbedaan tersebut di ata pada siswa yang mempelajari gerak, maka kita mengherankan pula bahwa kesuksesan seseorang dalam menguasai sebuah keterampilan gerak banyak juga ditentukan oleh ciri-ciri atau kemampuan dan bakat dari orang yang bersangkutan. Semakin baik kemampuan san bakat anak dalam keterampilan tertentu, maka akan semakin mudahlah ia untuk menguasai keterampilan yang dimaksud. Ini semua membuktikan bahwa factor pribadi merupakan sesuatu yang mempengaruhi penguasaan keterampilan. Pertanyaan berikut yang harus dikemukakan dalam masalah prbadi ini adalah, faktor-faktor pribadi apakah yang bias mempengaruhi penguasaan keterampilan? Singer mengidentifikasi sekitar 12 faktor pribadi yang sangat berhubungan dengan upaya pencapaian keterampilan, faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut.
a)      Ketajaman indra, yaitu kemampuan indra untuk mengenal tampilan rangsang secara akurat.
b)      Persepsi, yaitu kemampuan untuk membuat arti dari situasi yang berlangsung.
c)      Intelegansi, yaitu kemampuan untuk menganalisis dan memecahkan masalah serta membuat keputusan-keputusan yang berhubungan dengan penampilan gerak.
d)      Ukuran fisik, adanya tingkat yag ideal dari ukuran tubuh yang diperlukan untuk sukses dalam cabng olahraga tertentu
e)      Pengalaman masa lalu, yaitu keluasan dan kualita pengalaman masa lalu yang berhubungan dengan situasi dan tugas gerak yang dipelajari saat ini.
f)       Kesanggupan, terdiri dari kemampuan, keterampilan dan pengetahuan yang dikembangkan secara memadai untuk menyelesaikan tugas dan situasi yang dipelajari saat ini.
g)      Emosi, yaitu kemampuan untuk mengarahkan dan mengontrol peraan secara tepat sebelum dan pada saat melaksanakan tugas.
h)      Motivasi, merupakan semangat dalam tingkat optimal untuk menguasi keterampilan yang dipelajari.
i)       Sikap, yaitu adanya minat dalam mempelajari dan memberi nilai pada kegiatan yang sedang dilakukan.
j)       Faktor-faktor kepribadian lainnya, hadirnya sifat yang ektrim seperti agresivitas, kebutuhan beravfilasi, atau prilaku lain yang dapat dimanfaatkan, tergantung situasi yang terjadi
k)      Jenis kelamin, yaitu pengaruh komposisi tubuh, pengalaman, factor budaya pada pelaksanaan kegiatan dan keinginan untuk beprestasi.
l)       Usia, yaitu pengaruh usia kronologis dan kematangan pada kesiapan dan kemampuan untuk mempelajari dan menampilkan tugas tertentu.
3.      Faktor Situasional (Situational faktor)
Faktor situasional sesungguhnya dapat mempengaruhi kondisi pembelajaran adalah lebih tertuju pada keadaan lingkungan. Yang termasuk ke dalam hal ini seperti ; tipe tugas yang diberikan, perlatan yang digunakan termasuk media belajar, serta kondisi dimana pembelajaran itu dilaksanakan. Semua factor tersebut dapat mempengaruhi proses pembelajaran serta pribadi anak serta salaing memberi pengruh dan dukungan satu sama lainnya atau sebaliknya. Penggunaan peralatan serta media belajar, baik secara langsung atau tidak langsung tentulah berpengaruh pada minat dan kesungguhan peserta didik dalam proses belajar. Sehingga pada akhirnya juga akan mempengaruhi keberhasilan peserta didik dalam menguasai keterampilan yang sedang dipelajari.


4.      Karakteristik peserta didik sekolah menengah atas laki-laki dan perempuan.
Kemampuan fisik berkaitan dengan keterampilan motorik yang berhubungan dengan anggota tubuh atau tindakan yang memerlukan koordinasi antara syaraf dan otak. Pada masa remaja terjadi perubahan fisik secara dramatis atau sering disebut dengan (growth spurt) yaitu percepatan pertumbuhan, dimana terjadi perubahan dan percepatan pertumbuhan diseluruh bagian dan dimensi fisik. Masa SMA yang memiliki rentan usia 15-18 tahun bisa dikatakan merupakan masa peralihan seseorang dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa atau yang lebih sering kita kenal dengan istilah masa remaja. Masa remaja merupakan suatu tahap transisi menuju ke status yang lebih tinggi yaitu status sebagai orang dewasa. Berdasarkan teori perkembangan, masa remaja adalah masa saat terjadinya perubahan-perubahan yang cepat, termasuk perubahan fundamental dalam aspek kognitif, emosi, sosial dan pencapaian.
Perkembangan Karakteristik Seksual
Terdapat perbedaan tanda-tanda dalam perkembangan seksual pada remaja. Tanda-tanda perkembangan seksual pada anak laki-laki diantaranya alat reproduksi spermanya mulai berproduksi, ia mengalami masa mimpi yang pertama, yang tanpa sadar mengeluarkan sperma. Sedangkan pada anak perempuan, bila rahimnya sudah bisa dibuahi karena ia sudah mendapatkan menstruasi yang pertama.
Terdapat ciri lain pada anak laki-laki maupun perempuan. Pada laki-laki pada lehernya menonjol buah jakun yang bisa membuat nada suaranya pecah; didaerah wajah, ketiak, dan di sekitar kemaluannya mulai tumbuh bulu-bulu atau rambut; kulit menjadi lebih kasar, tidak jernih, warnanya pucat dan pori-porinya meluas. Pada anak perempuan, diwajahnya mulai tumbuh jerawat, hal ini dikarenakan produksi hormon dalam tubuhnya meningkat. Pinggul membesar bertambah lebar dan bulat akibat dari membesarnya tulang pinggul dan berkembangnya lemak bawah kulit. Payudara membesar dan rambut tumbuh di daerah ketiak dan sekitar kemaluan. Suara menjadi lebih penuh dan merdu. Pada saat seorang anak memasuki masa pubertas yang ditandai dengan menstruasi pertama pada remaja putri ataupun perubahan suara pada remaja putra, secara biologis dia mengalami perubahan yang sangat besar. Pubertas menjadikan seorang anak tiba-tiba memiliki kemampuan untuk ber-reproduksi.
Anak laki-laki mulai memperlihatkan perubahan dalam suara, otot, dan fisik lainnya yang berhubungan dengan tumbuhnya hormon testosterone. Bentuk fisik mereka akan berubah secara cepat sejak awal pubertas dan akan membawa mereka pada dunia remaja.


Perkembangan Karakteristik dalam Kehidupan Sosial
Salah satu pola hubungan sosial remaja diwujudkan dengan membentuk satu kelompok. Remaja dalam kehidupan sosial sangat tertarik pada kelompok sebayanya sehingga tidak jarang orang tua dinomorduakan, sedangkan kelompoknya dinomorsatukan. Contohnya, apabila seorang remaja dihadapkan pada suatu pilihan untuk mengikuti acara keluarga dan berkumpul dengan teman-teman, maka dia akan lebih memilih untuk pergi dengan teman-teman.Pola hubungan sosial remaja lain adalah dimulainya rasa tertarik pada lawan jenisnya dan mulai mengenal istilah pacaran. Jika dalam hal ini orang tua kurang mengerti dan melarangnya maka akan menimbulkan masalah sehingga remaja cenderung akan bersikap tertutup pada orang tua mereka. Anak perempuan secara biologis dan karakter lebih cepat matang daripada anak laki-laki.





BELAJAR MOTORIK


PROFESIONAL
TUGAS M1 KB 2 : Belajar Motorik
1.      Sebutkan ada berapa macam gerak dasar, jelaskan dan berikan contohnya.
2.      Jelaskan apakah yang dimaksud dengan klasifikasi gerak berdasarkan kecermatan gerak.
3.      Bagaimana langkah-langkah dalam menyusun sebuah program permbelajaran gerak?

JAWABAN
1.      Macam-macam pola gerak dasar yaitu  
1)      Keterampilan Lokomotor (Locomotor skills) 
Keterampilan lokomotor didefinisikan sebagai keterampilan berpindahnya individu dari satu empat ke tempat yang lain. Sebagian besar keterampilan lokomotor berkembang dari hasil dari tingkat kematangan tertentu, namun latihan dan pengalaman juga penting untuk mencapai kecakapan yang matang. Keterampilan lokomotor misalnya berlari cepat, mencongklang, meluncur, dan melompat lebih sulit dilakukan karena merupakan kombinasi dari pola-pola gerak dasar yang lain. Keterampilan lokomotor membentuk dasar atau landasan koordinasi gerak kasar (gross skill) dan melibatkan gerak otot besar.
2)      Keterampilan Non-lokomotor (Non Locomotor skills)
Keterampilan non-lokomotor disebut juga keterampilan stabilitas (stability skill), didefinisikan sebagai gerakan-gerakan yang dilakukan dengan gerakan yang memerlukan dasar-dasar penyangga yang minimal atau tidak memerlukan penyangga sama sekali atau gerak tidak berpindah tempat, misalnya gerakan berbelok-belok, menekuk, mengayun, bergoyang. Kemampuan melaksanakan keterampilan ini paralel dengan penguasaan keterampilan lokomotor.
3)      Keterampilan Manipulaif (Manipulative skills)
Keterampilan manipulatif merupakan keterampilan yang melibatkan pengendalian atau kontrol terhadap objek tertentu, terutama dengan menggunakan tangan atau kaki. Ada dua klasifikasi keterampilan manipulatif, yaitu (1) keterampilan reseptif (receptive skil); dan (2) keterampilan propulsif (propulsive skill). Keterampilan reseptif melibatkan gerakan menerima objek, misalnya menangkap, menjerat, sedangkan keterampilan propulsif bercirikan dengan suatu kegiatan yang membutuhkan gaya atau tenaga pada objek tertentu, misalnya melempar, memukul, menendang.
Walaupun sebagian besar keterampilan manipulatif menggunakan tangan dan kaki, tetapi bagian-bagian tubuh yang lain juga dapat digunakan. Manipulasi terhadap objek tertentu mengarah pada koordinasi mata-tangan dan mata-kaki yang lebih baik, terutama penting untuk gerakan-gerakan yang mengikuti jalan atau alur (tracking) pada tempat terentu.  Keterampilan manipulatif merupakan dasar-dasar dari berbagai keterampilan permainan (game skill). Gerakan yang memerlukan tenaga, seperti melempar, memukul, dan menendang dan gerakan menerima objek, seperti menangkap merupakan keterampilan yang penting yang dapat diajarkan dengan menggunakan berbagai jenis bola. Gerakan melambungkan atau mengarahkan objek yang melayang, seperti bola voli merupakan bentuk keterampilan manipulatif lain yang sangat penting. Kontrol terhadap suatu objek yang dilakukan secara terus menerus, seperti menggunakan tongkat juga merupakan aktivitas manipulatif.
2.      Ketererampilan gerak dapat dikaji berdasarkan kecermatan pelaksanaannya. Kecermatan pelaksanaan gerakan dapat ditentukan antara lain oleh jenis otot-otot yang terlibat. Ada gerakan yang melibatkan otot-otot besar dan jenis otot-otot halus. Keterampilan gerak ini dapat dikategorikan menjadi 2 yaitu:
a.      Keterampilan gerak agal (gross motor skills).
Keterampilan gerak agal adalah gerakan yang dalam pelaksanaannya melibatkan otot-otot besar sebagai basis utama gerakan. Di perlukan keterlibatan bagian-bagian tubuh secara keseluruhan. Contohnya adalah keterampilan gerak loncat tinggi dan lempar lembing.
b.      Keterampilan gerak halus (fine motor skills).
Keterampilan gerak halus adalah gerakan yang dalam pelaksanaannya melibatkan otot-otot halus sebagai basis utama gerakan. Melibatkan sebagian dari anggota badan yang digerakan oleh otot-otot halus. Contohnya adalah keterampilan gerak menarik pelatuk senapan dalam menembak dan pelepasan busur dalam memanah.
Perbedaan gerak agal dengan gerak halus yaitu keterampilan gerak agal diperlukan keterlibatan bagian-bagian tubuh secara keseluruhan, sedang pada keterampilan gerak halus hanya melibatkan sebagian dari anggota badan yang digerakan oleh otot-otot halus.


3.      Dalam menyusun program latihan fisik atau pengembangan gerak harus mempertimbangkan komponen-komponen, yaitu (1) tujuan; (2) tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak (kemampuan gerak); (3) komponen fisik; dan (4) disesuaikan dengan dunia anak (metode).
a.      Penentuan Tujuan
Pembelajaran pendidikan jasmani tidak hanya bertujuan mengembangkan aspek psikomotor atau fisik, tetapi juga aspek kognitif dan afektif. Menentukan tujuan yang dimaksud adalah menentukan hasil atau sasaran yang ingin dicapai atau ingin ditingkatkan. Ada dua tujuan yang dapat dirumuskan, yaiu (1) tujuan utama (main effect); dan (2) tujuan penyerta (nurturant effect). Tujuan utama berkaitan dengan aspek psikomotor atau fisik, yaitu keterampilan gerak dan unsur-unsur fisik (kecepatan, kekuatan, daya tahan, kelincahan dan unsur fisik lainya). Tujuan penyerta berkaitan dengan dampak atau pengaruh yang diakibatkan karena melakukan aktivitas fisik, seperti unsur-unsur kerjasama, menghargai orang lain, mengendalikan diri, sportif, pemecahan masalah, dan lain-lain.
b.      Penyusunan program
Dilihat dari sudut tingkat pertumbuhan dan perkembangan, anak usia antara 6-12 tahun memiliki tingkat kemampuan gerak dasar dan dilanjutkan usia 13-15 serta usia 16-18 dalam rangka pembentukan pada Pendidikan jasmani. Oleh karena itu, penyusunan program aktivitas fisik anak harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan tersebut. Secara umum gambaran perbedaan antar peserta didik harus dijadikan landasan untuk penyusunan program pengembangan pola gerak dasar. Setiap peserta didik mempunyai kemampuan yang berbeda-beda untuk mempelajarai gerakan keterampilan.  Perbedaan kemampuan terjadi terutama karena kualitas fisik yang berbeda beda, dan perbedaan kualitas fisik terjadi karena pengalaman yang berbeda-beda. Setiap peserts didik tidak ada yang makan makanan yang sama, tidak ada yang melakukan aktivitas dengan kondisi yang sama, tidak ada yang beristirahat dengan kondisi yang sama, tidak ada yang mengalami sakit dengan derajat yang sama, dan sebagainya. Kondisi yang unik pada setiap peserta didik mengakibatkan terjadinya kemampuan yang berbeda-beda. Perbedaan individu bukan hanya yang berkaitan dengan unsur fisik, tetapi juga dalam aspek psikologis. Tidak ada satupun peserta didik yang mempunyai watak atau sifat kepribadian dan tingkat kecerdasan yang sama dengan peserta didik lain, termasuk anank kembar sekalipun. Yang ada hanya kemirip-miripan dan bukan sama persis satu dengan yang lainnya. Dengan kenyataan bahwa tidak seorangpun peserta didik yang sama satu dengan yang lainya baik dalam aspek fisik ataupun aspek psikologis, maka pada dasarnya setiap orang memerlukan perlakuan yang berbeda-beda didalam proses pembelajaran agar masing-masing dapat mencapai hasil yang optimal sesuai dengan potensi yang dimiliki, prinsip ini berlaku juga dalam proses belajar gerak. Di dalam proses belajar mengajar gerak penjasorkes di sekolah, di mana pada umumnya seorang guru harus mengajar peserta didik yang jumlahnya kadang-kadang 40 bahkan lebih, tentunya tidak memungkinkan bagi guru untuk memberikan perlakuan kepada peserta didik dengan program yang berbeda-beda. Pada umumnya, dalam kondisi seperti itu guru memberikan perlakuan atau kondisi belajar berdasarkan kemampuan. rata-rata peserta didik. Bagi yang mempunyai kemampuan di atas rata-rata materi pelajaran yang kurang memberikan beban atau tantangan sesuai tujuan pembelajaran maka materi ajar dapat dikuasai dengan mudah, juga sebaliknya, bagi peserta didik dengan kemampuan dibawah rata-rata, matei ajar yang diberikan dapat terasa berat sehingga menjadi sulit untuk dikuasai atau sulit untuk mencapai kemajuan.
c.       Analisis Kemampuan Gerak
Kemampuan fisik dapat tercermin dalam komponen fisik yang terdiri dari daya tahan, kecepatan, kekuatan, kelincahan, Kelentukan, keseimbangan, komposisi tubuh dan kordinasi. Kemampuan gerak dasar meliputi, kemampuan gerak lokomotor, stabilitas dan gerak manipulasi. Masing-masing kemampuan gerak ini memiliki unsur-unsur yang berbeda, dari komponen kemampuan gerak tersebut, kemudian diidentifikasi, dianalisis, dan dipilih yang disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai. Demikian juga untuk komponen fisik perlu diidentifikasi, dianalisis, dan dipilih yang disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai. Setelah komponen kemampuan gerak dan kemampuan fisik diidentifikasi, dianalisis, dan dipilih, maka langkah selanjutnya dikembangkan dalam bentuk program pelajaran yang disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai. Program yang paling mudah adalah metode sirkuit training, karena metode ini menantang anak melalui aktivitas sirkuit keterampilan merupakan cara yang sangat baik untuk mendorong dan meningkatkan keterlibatan di dalam rentang keterampilan dan aktivitas yang luas. Sirkuit keterampilan dikarakteristikkan dengan (1) berbagai pos yang terpisah; (2) tiap pos memerlukan keterampilan yang berbeda untuk anak; dan (3) menyiapkan sebuah tempat, tempat bermain atau di dalam ruangan atau gedung. Pos-pos tersebut dirancang untuk mendorong partisipasi maksimum dan peningkatan individu. Sebanyak pos yang diperlukan dapat disiapkan, dengan 12 pos sebagai jumlah maksimum yang disarankan. Anak harus bekerja di dalam kelompok yang berisi 2 atau 3 anak agar supaya tiap anak memperoleh tingkat keterlibatan yang tinggi dalam keterampilan tertentu. Dalam aktivitas-aktivitas tertentu memerlukan pasangan, agar kelompok yang berisi 3 anak, memastikan bahwa tiap anak memiliki giliran dengan pasangannya. Rentang waktu yang disarankan untuk tiap pos 50 detik, diikuti dengan istirahat atau interval 10 detik. Salah satu cara yang efektif untuk mengatur pelaksanaan sirkuit ini adalah dengan menyusun, misalnya sebuah tape musik, yaitu 50 detik dengan musik ....., 10 detik tanpa musik ....., 50 detik dengan musik ....., 10 detik tanpa musik ...., dan seterusnya. Dengan cara ini anak akan mengetahui kapan bergerak dan kapan bersiap-siap untuk melakukan pada pos selanjutnya. Anak harus diberi penjelasan secukupnya mengenai cara pelaksanaan.  Sirkuit keterampilan merupakan bentuk aktivitas yang dapat dilakukan kapan saja dan untuk cabang olahraga apa saja. Konsep sirkuit bukan merupakan hal yang baru. Guru dapat menggunakan sirkuit ini dalam mengajar/melatih.

PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK


TUGAS ESSAY M1 KB 1 : Pertumbuhan dan Perkembangan Peserta Didik

1.      Jelaskanlah dengan contoh apa yang dimaksud dengan; Pertumbuhan, Perkembangan, Kematangan dan Penuuan!
2.      Jelaskanlah dengan contoh apa yang dimaksud dengan Zona Perkembangan Proksimal (ZPD) implementasinya dalam pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan.
3.      Mengapa guru perlu mewadahi perkembangan anak untuk mengembangkan potensi yang ada padanya dalam medium PJOK.
4.      Faktor apakah yang mempengaruhi perkembangan sosial anak remaja?

JAWABAN
1.      Pengertian dan contoh Pertumbuhan, Perkembangan, Kematangan dan Penuuan.
a)      Pertumbuhan merupakan bertambahnya ukuran tubuh atau biomassa yang bersifat irreversible (tidak dapat kembali ke ukuran semula). Pertumbuhan mencakup perubahan fisik yang terjadi sejak periode prenatal sampai massa dewasa lanjut yang dapat berupa kemajuan atau kemunduran Contohnya proses bertambahnya tinggi, berat, dan ukuran dari suatu makhluk hidup. Semua proses tersebut bisa diukur dengan menggunakan alat ukur serta dapat dituliskan dengan angka.
b)      Perkembangan merupakan penahapan atau pembabakan rentang perjalanan kehidupan individu yang diwarnai ciri – ciri khusus atau pola- pola tingkah laku tertentu. Proses perubahan yang terjadi pada makhluk hidup menuju tingkat kedewasaan tertentu. Perkembangan lebih bersifat kualitatif dan Perkembangan tidak dibatasi usia. Selain itu Perkembangan tidak dapat diukur dan dinyatakan dalam angka. Contohnya ketika bayi baru lahir, ia belum bisa berbicara. Kemudian secara perlahan‐lahan bisa mengucapkan kata‐kata tertentu sampai akhirnya ia terbiasa berbicara.
c)      Kematangan merupakan suatu potensi yang dibawa individu sejak lahir , timbul dan bersatu dengan pembawaannya serta turut mengatur pula perkembangan tingkah laku individu. Contohnya kesiapan seorang anak remaja dalam kematangan sistem reproduksinya.
d)      Penuaan adalah suatu proses menghilangnya kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya, sehingga tidak dapat bertahan serta memperbaiki kerusakan yang diderita. Contohnya semakin bertambahnya umur seseorang kulit mengalami keriput dan tidak kencang lagi.
2.      Zona Perkembangan Proksimal (ZPD) adalah istilah rangkaian tugas yang terlalu sulit dikuasai anak seorang diri tetapi dapat diipelajari dengan bantuan dan bimbingan orang dewasa atau anak-anak yang terlatih.  Implementasinya dalam pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan yaitu pada guru yang menerapkan model pembelajaran kooperatif dalam proses belajar mengajar. Dengan model pembelajaran kooperatif  memberikan kesempatan pada siswa untuk kerja kelompok dan dapat mempercepat perkembangan anak. Contohnya dalam pembelajaran Senam Lantai guru memberikan tugas gerak kayang kepada siswa. Secara berkelompok siswa mendiskusikan dan mempraktekan rangkaian gerak tersebut. Apabila dalam kelompok ada anak yang mengalami kesulitan dalam mempraktekan rangkaian gerak kayang tersebut maka siswa yang sudah bisa melakukan gerak kayang membantu siswa yang mengalami kesulitan. Hal ini menjurus pada pengajaran pribadi oleh teman sebaya (peer tutoring). Satu anak bisa lebih efektif membimbing anak lainnya melewati Zona Perkembangan Proksimal (ZPD) karena mereka sendiri baru saja melewati tahap itu sehingga bisa dengan mudah melihat kesulitan-kesulitan yang dihadapi anak lain dan menyediakan solusi/jalan keluar yang sesuai.
3.      Guru perlu mewadahi perkembangan anak karena  bisa dijadikan bahan pertimbangan dalam penyusunan program pembelajaran PJOK yang tepat bagi siswa, sehingga kegiatan pembelajaran pun akan dapat memenuhi kebutuhan, minat, bakat, potensi dan tepat berdasarkan dengan perkembangan  siswa. Beberapa dasar pertimbangan perlunya mawadahi perkembangan untuk menggali potensi  siswa yaitu :
a)       Dasar pertimbangan psikologis: bahwa suatu kegiatan akan menarik dan berhasil apabila sesuai dengan minat, bakat, kemampuan, keinginan, dan tuntutan siswa.
b)      Dasar pertimbangan sosiologi: bahwa secara naluri manusia akan merasa ikut serta memiliki dan aktif mengikuti kegiatan yang ada.
Dengan berbagai macam karakteristik siswa dalam satu kelas tentunya guru harus peka terhadap perkembangan siswa agar semua siswa di kelas bisa berhasil dalam proses pembelajaran. Selain itu, mewadahi perkembangan untuk potensi siswa dapat juga diarahakan pada olahraga prestasi. Misalnya siswa dilatih dan dikembangkan untuk menjadi atlet sesuai dengan minat dan bakatnya masing-masing.

4.      Faktor-faktor Perkembangan Sosial Remaja dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: keluarga, kematangan anak, status ekonomi keluarga, tingkat pendidikan, dan kemampuan mental terutama emosi dan intelegensi.
a)      Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama yang memberikan pengaruh terhadap berbagai aspek perkembangan anak termasuk perkembangan sosialnya. Kondisi atau tata cara kehidupan keluarga merupakan lingkungan yang yang kondusif bagi sosialisasi anak. Didalam keluarga berlaku norma-norma kehidupan keluarga, dan dengan demikian pada dasarnya keluarga merekayasa perilaku kehidupan anak. Proses pendidikan yang bertujuan mengembangkan kepribadian anak lebih banyak ditentukan oleh keluarga. Pola pergaulan dan bagaimana norma dalam menempatkan diri terhadap lingkungan yang lebih luas ditetapkan dan diartikan oleh keluarga.
b)     Kematangan Anak.
Bersosialisasi memerlukan kematangan fisik dan psikis. Untuk mampu mempertimbangkan dalam proses sosial, memberi dan menerima pendapat orang lain, memerlukan kematangan intelektual dan emosional. Disamping itu, kemampuan berbahasa ikut pula menentukan. Dengan demikian, untuk mampu bersosialisasi dengan baik diperlukan kematangan fisik sehingga setiap orang fisiknya telah mampu menjalankan fungsinya dengan baik.
c)      Status Sosial Ekonomi
Kehidupan sosial banyak dipengaruhi oleh kondisi atau status kehidupan sosial keluarga dalam lingkungan masyarakat. Masyarakat akan memandang anak, bukan sebagai anak yang independen, akan tetapi akan dipandang dalam konteksnya yang utuh dalam keluarga anak itu. “Ia anak siapa”. Secara tidak langsung dalam pergaulan sosial anak, masyarakat dan kelompoknya dan memperhitungkan norma yang berlaku didalam keluarganya. Dari pihak anak itu sendiri, perilakunya akan banyak memperhatikan kondisi normatif yang telah ditanamkan oleh keluarganya. Sehubungan dengan itu, dalam kehidupan social anak akan senantiasa “menjaga” status sosial dalam ekonomi keluarganya. Pada hal tertentu, maksud “menjaga status dalam keluarganya” itu mengakibatkan menempatkan dirinya dalam pergaulan sosial yang tidak tepat. Hal tersebut dapat mengakibatkan anak menjadi “terisolasi” dari kelompoknya sehingga akan membuat mereka membentuk sebuah kelompok elit dengan menggunakan norma tersendiri.

d)     Pendidikan
Pendidikan merupakan proses sosialisasi anak yang terarah. Hakikat pendidikan sebagai proses pengoperasian ilmu yang normatif, akan memberikan warna kehidupan sosial anak didalam masyarakat dan kehidupan mereka dimasa yang akan datang. Pendidikan dalam arti luas harus diartikan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh kehidupan keluarga, masyarakat dan kelembagaan. Penanaman norma perilaku yang benar secara sengaja diberikan kepada peserta didik yang belajar di kelembagaan pendidikan (sekolah). Kepada peserta didik bukan saja dikenalkan kepada norma-norma lingkungan dekat, tetapi dikenalkan kepada norma-norma kehidupan bangsa (nasional) dan norma kehidupan antarbangsa, titik pergaulan membentuk perilaku kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
e)      Kapasitas Mental, Emosi dan Intelegensi.
Kemampuan berfikir mempengaruhi banyak hal, seperti kemampuan belajar, memecahkan masalah, dan berbahasa. Anak yang berkemampuan intelektual tinggi akan berkembang Bahasa secara baik. Oleh karena itu, kemampuan intelektual tinggi, kemampuan berbahasa baik, pengendalian emosional secara seimbang sangat menentukan keberhasilan dalam perkembangan sosial anak. Sikap saling pengertian dan kemampuan memahami orang lain merupakan modal utama dalam kehidupan sosial dan hal ini akan dengan mudah dicapai oleh remaja yang berkemampuan intelektual

Aktivitas Olahraga Senam, Akuatik, Beladiri dan Pendidikan Kesehatan

TUGAS AKHIR M6 : Aktivitas Olahraga Senam, Akuatik, Beladiri dan Pendidikan Kesehatan Tugas 1 Senam 1.       Buatlah uraian 3 gerakan ...